Marsipature Hutanabe

Oleh: Amru Lubis

Slogan Marsipature Hutanabe (bahasa Tapanuli) pernah hits dan sangat tenar di Sumatera Utara (Sumut) pada era Gubernur Alm. Raja Inal Siregar.
Marsipature Hutanabe (Martabe) memiliki arti, ‘Mari Benahi Kampung Masing-masing’ atau bisa diartikan perluasan dari makna Ayo Pulang ke Desa dan Mari Membangun Desa’.
Kalimat ini sangat tepat bila dikaitkan dengan mahasiswa atau putra daerah yang sudah berhasil di perantauan orang.
Melihat fenomena di Indonesia memang banyak mahasiswa asal desa yang merantau ke kota untuk kuliah kemudian bekerja dan sejahtera di kota.
Sewajarnya mahasiswa dan putra daerah di perantauan dari kampung mampu mengembangkan potensi yang ada di daerahnya ketika selesai dengan pendidikannya.
Terkadang tujuan para mahasiswa perantauan saat ini sudah berbeda pandangan dari hal yang wajar dari yang seharusnya. Mereka pergi ke kota untuk menempuh pendidikan, kemudian mencari kerja di kota dan hidup di kota. Kehidupan kota mungkin dapat mengubah pandangan mahasiswa perantauan.
Mahasiswa perantauan sebagai putra daerah yang menempuh pendidikan di kota harus mampu mengembangkan potensi daerahnya. Cinta daerah dan sadar akan kondisi daerahnya adalah suatu hal yang wajib agar potensi di desa dapat terangkat dengan adanya mahasiswa atau putra daerah yang sudah jadi pengusaha sukses di kota, karena keduanyalah yang dapat melakukan perubahan dan kemajuan bagi kmapungnya.
Mahasiswa seharusnya sadar akan kondisi di Indonesia saat ini,  bahwa potensi paling Indonesia adalah Desa atau kampung. Karena desa adalah kekuatan ekonomi, sosial, dan budaya Indonesia. Mahasiswa daerah adalah kaum intelektual yang dapat mengembangkan dan memunculkan potensi daerahnya.

Pesta Menjala Ikan di Lubuk Larangan di Aek Batang Gadis

Salah satu contoh penerapan Marsipature Hutanabe yang sudah diaplikasikan oleh putra daerah atau mahasiswa yang sudah berhasil di kota dan kembali pulang untuk membangun kampunya, ketika lebaran idul fitri setiap tahunnya.
Karena saat lebaran idul fitri inilah, para perantau yang sudah sukses di kota, punya waktu luang yang banyak membawa keluarga untuk menghabiskan masa liburan sekolah dan liburan kerja minimal selama seminggu.
Momen lebaran inilah yang di manfaatkan tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan agama di Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal (Madina) untuk menggelar pesta Menjala Ikan di areal Lubuk Larangan sepanjang 500 meter lebih di Aek (sungai) Batang Gadis yang merlintasi beberapa desa di kecamatan ini. Diantaranya, Patialo,  Saba Dolok, Sibio-Bio, Simandolan, Simpang Tolang Jae, Simpang Tolang Julu,  Singengu Jae, Singengu Julu, Tambang Bustak, Tamiang, Tobang dan lainnya.
Lubuk Larangan ini maksudnya, sepanjang lebih kurang 500 meter lebih aliran Sungai Batang Gadis ini sudah dipasang jala di dalam air, sehingga benih-benih ikan seperti ikan mas, ikan jurung, ikan merah, ikan bado, ikan garing, dan lainnya yang ditabur selama setahun (dari pasca lebaran idul fitri tahun lalu ke lebaran idul fitri tahun berikutnya) baru bisa dijala.
Bila ada warga kampung atau pendatang yang berani dan tertangkap saat mengambil ikan di lubuk larangan itu, maka oleh tokoh adat disidang dan dikenakan denda adat kampung. Makanya, ikan-ikan yang ada di lubuk larangan itu aman dari tangan-tangan jahil. Dan saat dibuka pada acara pesta lubuk larangan, makan ukuran ikan-ikannya besar-besar.
Saat lebaran idul fitri tiba, tepatnya di hari lebaran kedua hingga sepekan lebaran, para perantau sukses yang masih berkumpul bersama keluarga besar di kampung halamannya, diarak ke pinggir Aek Batang Gadis untuk ikut berpartisipasi dalam pesta menjala ikan di lubuk larangan. Biasanya bagi putra daerah yang sukses pasti pulang kampung membawa uang yang banyak. Makanya, setiap peserta yang turun ke sungai dikenakan uang administrasi sebesar Rp 200 ribu untuk satu jala. Dan boleh membawa dua, tiga atau empat jala, sesuai dengan kemampuan uangnya.
Sekali turun menjala ikan, bisa ratusan orang (ratusan jala) di dalam sungai, dan disaksikan oleh warga lainnya di pinggir sungai menungg hasil tangkapan ikan . Bagi peserta yang berezeki, bisa membawa ikan yang besar-besar dan banyak. Tapi tak jarang juga ada peserta yang kurang beruntung, hanya mendapatkan ikan yang kecil-kecil.
Tapi, mereka puas karena sudah berbaur dan berpartisipasi ikut membangun kampungnya sesuai slogan Marsipature Hutanabe.
Dari uang administrasi yang dikumpulkankan oleh panitia itulah bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Warga kampung bersama putra daerah yang sukses menggelar rapat dan kenduri besar. Juga digelar pesta musik dengan mendatangkan grup band. Dalam pesta musik itu juga digelar pengumpulan dana dari para donatur yakni perantau yang sukses. Uang yang terkumpul dari pesta lubuk larangan dan pesta musik itulah akan digunakan untuk membangun beragam fasilitas kebutuhan warga. Misalnya, membangun tempat rapat (balai desa), tempat wuduk, MCK, jalan di gang-gang desa. Juga lapangan dan peralatan olahraga untuk pemuda-pemudi kampung, seperti bola kali, voli, tenis meja, bulu tangkis dan lainnya.
Inilah manfaat dan tujuan digelarnya pesta lubuk larangan dan pesta musik setiap lebaran idul fitri.
Slogan Marsipature Hutanabe sepertinya sudah mendarah daging dan menjadi tradisi bagi warga asli dan putra perantau di Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Dan masih banyak cara yang dilakukan warga kampung untuk membangun desanya, memajukan kampung kelahirannya. Bila kampung halamannya maju, sebagai perantau yang sukses di kota, pasti bangga dan puas. Karena yang ikut maju juga keluarganya di desa yang ditinggalkannya. Warga kampung juga merasa bangga punya putra darah yang mau ikut dan peduli membangun serta memajukan kampung kelahirannya. Siapa lagi yang bisa diharapkan untuk membangun kampung halaman, selain para putra-putri daerah yang sukses di perantauan. Marsipature Hutanabe, Mari Membangun Kampung Masing-masing.
“Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati” (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s